LDKR (Latihan Dasar Kepemimpinan ROHIS) 2011

Foto - foto kegiatan yang berhasil kami arsipkan pada web blog ini

LDKR (Latihan Dasar Kepemimpinan ROHIS) 2011

Foto - foto kegiatan yang berhasil kami arsipkan pada web blog ini., Adalah Nasyid yang terlahir dari Organisasi ini pada tahun 2007, dan sekarang mulai meranah ke arah yang lebih profesional

LDKR (Latihan Dasar Kepemimpinan ROHIS) 2011

Foto - foto kegiatan yang berhasil kami arsipkan pada web blog ini

LDKR (Latihan Dasar Kepemimpinan ROHIS) 2011

Foto - foto kegiatan yang berhasil kami arsipkan pada web blog ini

Personil Akhwat 2010/2011

Foto - foto kegiatan yang berhasil kami arsipkan pada web blog ini

Rabu, 30 Mei 2012

Ozil “Real Madrid”: Al-Qur’an Menambah Kekuatanku



dakwatuna.com – Madrid. Ada banyak pemain sepakbola Muslim yang merumput di liga utama Eropa. Namun bisa dihitung dengan jari mereka yang bisa meraih prestasi hebat di klub dan memperkuat klub besar. Satu di antara pemain sepakbola Muslim yang beruntung adalah gelandang kreatif Real Madrid, Mesut Ozil.

Pemain berdarah Turki yang memperkuat timnas Jerman itu dikenal sebagai kreator keberhasilan Los Blancos merebut juara La Liga Spanyol musim ini. Capaian itu semakin melambungkan nama Ozil di kancah pesepakbolaan dunia.

Ternyata ada sedikit rahasia di balik tampilan gemilang permainan Ozil sepanjang musim 2011/2012. “membaca Alquran setiap sebelum kick-off,” ungkap Ozil menceritakan kunci sukses meraih prestasi bersama Madrid.

Saat ini, terdapat enam pemain Muslim yang membela Madrid. Lima pemain lainnya adalah Karim Benzema, Sami Khedira, Hamit Altintop, Nuri Sahrin, dan Lassana Diarra. Namun hanya Ozil dan Khedira yang rutin turun sebagai starter di bawah penanganan Mourinho.

Menurut Ozil, membaca beberapa ayat kitab suci umat Islam itu bisa memberinya ketenangan selama di lapangan. Tak heran Ozil dikenal sebagai pemain kalem di lapangan, meski laga berlangsung dalam tensi tinggi. “Alquran suci memberi saya kekuatan lebih untuk bermain dalam pertandingan dengan baik,” ujar eks pemain Werder Bremen itu. (Ajeng Ritzki Pitakasari/Erik Purnama Putra/ROL)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20525/ozil-real-madrid-al-quran-menambah-kekuatanku/#ixzz1wJhDpkaH

Penyakit yang Bunuh Charles Darwin Menyebar di AS


TEMPO.CO , San Fransisco - Peneliti dari University of Maryland School of Medicine mengatakan tahun lalu bahwa mereka percaya Charles Darwin menderita tiga penyakit yang berbeda, termasuk infeksi Chagas.

Para ahli percaya bahwa ia tertular penyakit itu selama perjalanan lima tahun di seluruh dunia dengan HMS Beagle saat berumur 20-an tahun. Dugaan Changas dihubungkan dengan kematiannya 47 tahun kemudian akibat gagal jantung.

Dalam jurnalnya bahwa dia telah digigit oleh ''serangga hitam bersayap'' selama ekspedisi, yaitu saat ia mengunjungi Amerika Selatan.

Kini, ''serangga hitam bersayap'' yang dimaksudnya terdeteksi sebagai serangga penghisap darah Triatome. Serangga ini melepaskan parasit yang disebut Trypanosoma cruzi ke dalam aliran darah korban, dan menyebabkan penyakit Changas.

Chagas sulit untuk terdeteksi dan butuh waktu bertahun-tahun untuk memunculkan suatu gejala. Temuan yang ditulis dalam jurnal PLoS Neglected Tropical Diseases menyatakan penyakit ini kini menyebar di benua Amerika. Penderita terbanyak ada di Bolivia, Meksiko, Columbia, dan Amerika Tengah, serta sekitar 30 ribu orang di AS.

Sekitar seperempat dari korban yang terjangkit penyakit ini memiliki jantung atau usus yang terus membesar. Sewaktu-waktu, kedua organ ini bisa pecah dan menyebabkan kematian mendadak. Diperkirakan pada tahun 2008 penyakit Chagas menewaskan lebih dari 10.000 orang.

Minggu, 20 Mei 2012

Aktivis Kristen Menolak Lady Gaga


Lady Gaga

Lihat..! Aktivits Kristen saja menolak Lady Gaga lalu bagaimana dengan kalian yang Muslim..???!


SEOUL, KOREA SELATAN (voa-islam.com) - Sekelompok aktivis keagamaan mengadakan demonstrasi di luar konser Lady Gaga di Korea Selatan pada hari Jumat (27/4/2012) untuk menyuarakan keprihatinan mereka atas pertunjukan "cabul"-nya .

Tour dunia Born This Way Ball superstar pop tersebut telah disambut dengan aksi protes di Seoul, di mana anak-anak di bawah 18 tahun dilarang keras dari menghadiri acara Jumat malam.

Anggota dari kelompok Kristen yang disebut Aliansi untuk Suara Kebudayaan Dalam Seksualitas mengadakan pertemuan doa massal di Seoul akhir pekan lalu untuk memprotes penyanyi tersebut, dan mereka juga menempatkan poster di sekitar kota yang menuduh Lady Gaga "menyebarkan budaya seksual tidak sehat" melalui "lirik cabul dan pertunjukan. "

Poster-poster ini kemudian dihapus oleh pejabat kota, tapi itu tidak menghentikan kampanye dari organisasi lain, Jaringan Masyarakat sipil Menentang Konser Lady Gaga, dari menunjukkan ketidaksetujuan mereka terhadap pembuat hit Wajah Poker dengan berkumpul diluar acaranya di Stadion Olimpiade pada Jumat.

Konser Lady Gaga digelar Seoul tertutup bagi anak yang berusia dibawah 18 tahun atas permintaan Kementrian Pemberdayaan Perempuan Korea Selatan. Mereka menilai, ada salah satu lagu milik Gaga yang tidak pantas didengar oleh anak-anak.

..Anggota dari kelompok Kristen yang disebut Aliansi untuk Suara Kebudayaan Dalam Seksualitas mengadakan pertemuan doa massal di Seoul akhir pekan lalu untuk memprotes penyanyi tersebut..

Pelarangan ini muncul karena banyak sekali keluhan yang masuk pada lembaga NGO and Christian Groups. Keluhan-keluhan tersebut rata-rata meminta Hyundai Card atau penyelenggara acara untuk membatalkan konser Gaga. Karena konser ini dianggap tidak pantas untujk anak-anak apalagi ada lagunya yang bercerita tentang homoseksual dan mengejek tokoh agama.

Pihak Korea Media Rating Board (KRMB) mengakatakan bahwa lagu Gaga yang berjudul Just Dance mendapat peringkat yang buruk dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan pada bulan November tahun lalu. Pihak Kementerian memberikan sebuah penilaian bahwa lagu tersebut tidak pantas didengarkan oleh para remaja karena liriknya tentang mabuk-mabukan dan clubbing.

“Kami percaya bahwa lagu Just Dance akan dibawakan di konser mendatang. Kemungkinan ini akan ditonton oleh para remaja dan ini bisa saja ditiru. Untuk itu lagu ini mendapat penilaian yang buruk,” ujar seorang sumber dari KRMB, dilansir Koreaherald, Selasa (3/4/2012).

Selepas tour Korea, Lady Gaga akan melanjutkan konsernya di beberapa negara lain termasuk juga di Indonesia. Konser di Indonesia sendiri sedianya akan dilakukan pada 3 Juni mendatang. Jika Kementrian Pemberdayaan Perempuan Korea Selatan saja mau dan mampu melarang, khususnya anak-anak dibawah 18 tahun untuk menonton konser tersebut, pertanyaanya, mau dan mampukah Kementrian Pemberdayaan Perempuan Indonesia melakukan hal yang sama, demi membentengi para remaja dari pengaruh negatif?. (by/starpulse,okz)

Selasa, 01 Mei 2012

Sebagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara Maju "pelit" Kasih Obat ke Anak yg Sakit

** Dimana Salahnya?**

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku ...tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.

"Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?" batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"

Aku mengangguk. "Ibuprofen syrup Dok," jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku."Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!" Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.

"Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!"

Suamiku menimpali, "Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?"
Aku menarik napas panjang. "Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?"

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

"Just drink a lot," katanya ringan.

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.

"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.

"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
"Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan," kataku ngeyel.

Dengan santai si dokter pun menjawab,"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq."
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

"Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini." Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.

"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok," aku ngeyel seperti biasa.

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "enam kali," jawabku asal.

"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: "Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun." Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya," Lanjut artikel itu. "Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun."

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda 'dipaksa' tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata 'pengobatan rasional'. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm... kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. "Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe," kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum
— with Siti Maimunah and Lailie Amir.

Sabtu, 28 April 2012

INFO


Assalamualaikum.wr.wb

FORTRIS (Forum Silaturahim Rohis) Jakarta presents:

"Rohis festival for Palestine"
Aneka lomba dan seminar.

Tanggal 13 Mei 2012 di Al-Ikhlas jati padang,ps Minggu, ada berbagai lomba:
-Nasyid
-Puisi
-Cerpen
-Cerdas Cermat
-Mading Islami

Tanggal 20 Mei 2012, di Masjid Al-khlas Jati padang. ada Seminar tentang palestina;
-Orasi Syaikh Palestina
-Tausyiah
-Nasyid Izzatul Islam
-Penguman Pemenang lomba
-Nonton bareng
-Bazar
-Gallery Foto
-dll
*HTM 15 ribu

More Info:
+6283873645866 (Baya)
rohisfestival4palestine.blogspot.com

Semangat Berbuat untuk Saudara2 kita!

*"Dapatkan Voucher diskon Robbani untuk 100 orang pendaftar pertama seminar palestina"

*duta palestine , more info 083873645866

Sebarkan !!!

Sabtu, 21 April 2012

Tips Ampuh untuk Mendapatkan Beasiswa S2 di Luar Negeri


Menjemput pengetahuan hingga di seberang samudera nun jauh disana, tampaknya merupakan salah satu impian banyak anak muda di tanah air. Pesona keindahan kampus di Harvard, Stanford, atau University of Manchester yang legendaris itu mungkin terasa selalu melambai-lambai.

Melanjutkan sekolah S2 (atau bahkan S3) di luar negeri memang salah satu kunci untuk merajut lukisan masa depan yang kinclong. Namun sekolah di luar negeri amat mahal bok (sekedar info, biaya kuliah MBA selama dua tahun di Harvard Business School mencapai 2 milyar rupiah). Tanpa beasiswa yang memadai, uang dari mana kita bisa sekolah S2 di luar negeri (dengan uang cap Dakocan?).

Dalam tulisan kali ini, saya mau berbagi tips untuk bisa mendapatkan beasiswa sekolah S2 di luar negeri.

Sebelum bicara tips, maka layak diketahui tiga negera yang secara konsisten setiap tahun memberikan beasiswa kepada anak negeri untuk sekolah S2 dan S3. Kalau mau serius dapat scholarship, tiga jenis beasiswa berikut ini yang benar-benar harus diburu.

Pertama, negara USA dengan program beasiswa yang amat prestisius itu, yakni Fulbright Scholarship (saya mendapatkan beasiswa ini beberapa tahun silam). Secara rutin beasiswa Fulbright memberikan jatah kepada sekitar 40 – 50 kandidat untuk sekolah S2 dan S3 di USA.

Kedua, Australia dengan program beasiswa yang amat beken bernama Australian Development Scholarship. Setiap tahun mereka memberikan jatah beasiswa yang amat besar, sekitar 300 kandidat.

Ketiga, negeri sepakbola Inggris dengan program Chevening British Award. Setiap tahun negerinya kang Rio Ferdinand ini rutin memberikan jatah beasiswa kepada sekitar 30 anak muda Indonesia.

Lalu faktor apa yang bisa membuat kita mendapatkan beasiswa sekolah S2/S3 di luar negeri? Saya kira faktor yang paling kunci adalah track record atau “prestasi yang nendang” yang acapkali tidak ada kaitannya dengan nilai akademis (atau Indeks Prestasi Akademis).

Dulu saya bisa mendapatkan Fulbright Scholarship, mungkin lebih disebabkan kiprah saya yang amat intens dalam beragam organisasi (baik dalam lembaga kampus atau organisasi kemasyarakatan seperti LSM). Juga mungkin lantaran “track record” saya dalam dunia tulis menulis (semenjak usia 20-an saya telah rutin menulis untuk sejumlah media nasional seperti harian Bisnis Indonesia dan majalah Warta Ekonomi).

Karena itu, jika Anda masih kuliah S1, dan kelak ingin dapat beasiswa S2 di luar negeri, maka sejak dini Anda harus melibatkan diri dengan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler yang “heroik dan spektakuler” (misal : menjadi penggagas gerakan guru sukarelawan untuk anak-anak pemulung; atau memberikan pelatihan creative thinking buat para pelaku UKM; atau membangun perpustakaan online for free; dan seterusnya). Hal-hal ini semacam ini akan jauh lebih dihargai oleh panitia seleksi dibanding nilai IPK.

Sementara jika Anda sudah lulus dan bekerja, mungkin Anda harus segera membangun “personal project” yang kelak bisa jadi semacam track record yang layak dikedepankan. Misal projek membangun blog untuk mendorong masayarakat gemar bercerita kepada anak-anak; menjadi penggerak untuk membangun sebuah komunitas yang keren (misal komunitas Pecinta WC Umum Bersih atau komunitas Walk to Work).

Atau bisa juga Anda berkolaborasi dengan kantor Anda untuk mendesain sebuah program CSR (corporate social responsibility) yang unik, keren dan berdampak luas bagi kesejahteraan lingkungan sekitar. Peran Anda dalam menggodok dan mengeksekusi program CRS yang dahsyat ini pasti akan jadi nilai tambah dalam proses seleksi mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri.

Sebenarnya ada cara lain yang jauh lebih mudah untuk mendapatkan beasiswa S2/S3 di luar negeri. Caranya : jadilah pegawai negeri di bidang-bidang yang “hot” seperti di Bapenas/Bapeda, Lembaga Lingkungan Hidup, Kependudukan, Energi, Keuangan, dan Infrastruktur.

Kalau Anda belum bekerja, dan berkenan menjadi PNS di lembaga-lemabaga semacam itu, maka mendapatkan beasiswa kuliah S2 di luar negeri akan menjadi amat mudah (karena memang tiga beasiswa yang saya sebut diatas amat memprioritaskan PNS untuk bidang-bidang tersebut, dibanding dari kalangan swasta).

Demikianlah beberapa informasi dan tips yang layak dicatat jika Anda ingin mendapatkan beasiswa sekolah S2 di luar negeri.

Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China. Dan raihlah pengetahuan hingga ke negeri seberang nun jauh disana.

Selasa, 17 April 2012

5 Contoh Logo Inspiratif untuk Pemilik Toko Herbal

Intro

Pada hari Senin tanggal 26 Desember 2011 atau bertepatan dengan tanggal 1 Safar 1433 Hijriah lalu, seorang pemilik toko herbal di Kota Limboto, ibukota Kabupaten Gorontalo, sempat menawariku untuk merancang dan membuatkan sebuah logo untuk tokonya. Beliau, yang kebetulan juga berstatus perantauan, membutuhkan logo ini untuk bahan neon box yang sebentar lagi mungkin akan segera dipasangnya. Kata Pak Fajar, nama si pemilik toko ini, ia menginginkan sebuah logo yang bisa membuat semua orang langsung kenal atau mudah mengenali tokonya.

Wah, ini adalah sebuah tantangan? Bisakah saya membantunya?!

Well, mungkin bisa. Sebenarnya saya bukanlah seorang desainer, tapi saya adalah seorang blogger dan penulis lepas di pengusahamuslim.com, oleh karena itulah, saya akan bantu Pak Fajar sesuai dengan kemampuan dan kapasitas saya. Melalui tulisan yang sedang Anda baca ini; 5 contoh logo yang bisa menjadi inspirasi untuk pemilik toko herbal. Berikut adalah daftarnya:

1. Sun Flower karya Muamer Adilovic



Huruf S dirancang sedemikian rupa sehingga memberikan visualisasi sebuah mahkota bunga matahari alias sun flower yang merupakan nama merk atau brand itu sendiri. Brilliant. Untuk para pemilik toko herbal seperti Pak Fajar, beliau mungkin bisa mengambil inspirasi dari desain ini dengan cara melakukan hal yang sama. Tapi dengan huruf F (huruf pertama dari kata Fajar, nama beliau) yang dibentuk seperti kelopak, bunga, akar, atau daun yang memang menjadi ciri khas abat-obatan herbal.

2. Mednatur by Sachael


Di atas saya sempat bilang soal dedaunan. Nah, kalau Pak Fajar bingung mencari inspirasi, mungkin logo Mednatur ini cocok dijadikan bahan pijakan. Bentuk daun dan posisinya di logo kelihatan indah sekali. Gambar atau ilustrasi daun-daunan memang sangat klop dengan kesan alamiah atau natural. Maklum saja, sampai sekarang susah menemukan daun-daunan palsu hasil buatan pabrik farmasi. Hehehe, sampai sekarang kita belum pernah bukan menonton iklan daun buatan atau daun palsu produksi Kalbe Farma atau Konimex? Betul tidak?

3. PharmaStrategies by ohTwentyone


Bila tidak suka dengan ilustrasi dedaunan yang mungkin terkesan terlalu tradisional, Pak Fajar bisa mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh PharmaStrategies dengan logonya; membuat huruf P dengan bantuan kapsul. Aha, ide pencatuman kapsul di logo Pak Fajar nantinya sebenarnya tidaklah buruk, bahkan bisa sangat bagus mengingat banyaknya produk-produk herbal yang dijual dalam kemasan kapsul. Termasuk habbatussauda yang sering saya beli di toko beliau. Seingat saya, belum pernah saya sekalipun memasukkan habbatusada atau sambiloto ke dalam perut saya kalau tidak dalam bentuk kapsul. Everything is inside the capsule!

4. Toowoomba Hand Therapy by Flant



Bagian paling menonjol dalam logo "jasa tukang pijat" ini adalah visualisasi senyum yang ada di dalam telapan tangan. Dan senyum adalah salah satu sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang sangat mulia dan penuh makna. Dengan menggunakan citra senyuman, Pak Fajar bisa memberikan kesan kepada semua pengunjung sekaligus pelanggan tokonya bahwa toko yang akan dimasukinya adalah toko yang penuh senyuman. Anda datang diberi senyum, pulang pun diberi senyum. Habis minum obat herbal? Anda pun akan tersenyum. Ya kalau sembuh ...hehehe...

5. Regional Medical Center by mfrank



Dan akhirnya, dari sekian banyak logo yang saya periksa. Saya yakin inilah yang paling cocok untuk toko herbal milik pak fajar. Saya cenderung untuk memilih logo ini karena Pak Fajar membutuhkan sebuah tanda atau "mark" yang langsung bisa membuat orang tahu tentang apa atau siapa di balik logo itu. Nah, logo ini tampaknya bisa melakukan hal yang dimaksud. Sebagai toko herbal yang belum banyak diketahui oleh orang umum - kecuali oleh sesama ikhwan - Pak Fajar membutuhkan sesuatu yang tidak hanya menyimbolkan, tapi juga memberi tahu bahwa pemilik logo keren itu adalah toko fajar herbal. Dalam imajinasi saya, teks "Regional Medical Center" akan saya ubah menjadi "Toko Herbal Fajar". Sementara teks "Family Practice" akan saya ubah menjadi "One Stop Herbal Solution". Itu kalau Pak Fajar ingin berjualan di Kota besar seperti Jakarta, tapi kalau di Gorontalo, teks "Solusi Herbal Keluarga Anda" mungkin lebih menjual. Insya Allah.